Hikmah Diharamkannya Riba Dan Macam-Macam Riba Berserta Contohnya

Hikmah Diharamkannya Riba Dan Macam-Macam Riba Berserta Contohnya
Hikmah Diharamkannya Riba Dan Macam-Macam Riba Berserta Contohnya


Hikmah Diharamkannya Riba


Para ahli tafsir telah menjelaskan bahwa keharaman riba itu mempunyai beberapa hikmah menurut syariat Islam. Berikut ini beberapa hikmah diharamkannya riba.

1. Sesungguhnya riba itu menghendaki mengambil harta manusia tanpa adanya imbalan, karena orang yang menjual satu dirham dengan dua dirham kontan atau pinjaman menghasilkan adanya satu dirham yang tidak ada imbalannya (tidak ada gantinya), sedangkan harta seorang muslim itu tergantung dengan kebutuhannya, dan ia memiliki kehormatan yang besar. Rosululloh SAW bersabda: Kehormatan harta orang Islam itu seperti kehormatan darahnya. H.R Abu Nuaim fil Hilyah di dalamnya ada isnad yang dhoif tetapi Ibnu Hajar berkata: Baginya memiliki beberapa saksi yang saling memperkuat (at-Talhisul Habir 3/46 Cetakan Syirkah ath-Thaba’ah al-Faniyah).

2. Tetapnya harta di dalam tangan seseorang dalam waktu yang lama dan kemungkinannya dia bisa memperdagangkan dan mengambil manfaat itu sesuatu yang wahmun (remang-remang) kadang-kadang bisa untung kadang-kadang bisa tidak untung, sedangkan mengambil satu dirham sebagai tambahan itu sesuatu yang pasti. Kehilangan suatu kepastian bagi masa yang remang-remang itu tidak sepi dari dloror (al-Mausu’ah 22/54, Nihayah al-Muhtaj 3/409, Hasyiah al-jamal 3/46, al-Qolyuby 2/166, Tafsir al-Qurthuby 3/359)

3. Sesungguhnya riba menghalang-halangi manusia dari kesibukan usaha (cenderung senang menjadi pemalas), karena pemilik uang ketika memungkinkan dengan perantaraan akad riba bisa menghasilkan uang tambahan secara kontan maupun pinjaman, usaha kearah mancari maisyah menjadi remeh (malas). Bagi orang tersebut, hampir-hampir dia tidak menanggungkan keberatan usaha, keberatan berjual beli dan keberatan dalam melakukan kerajinan tangan (manufaktur). Hal tersebut akan mendatangkan terputusnya manfaat-manfaaat makhluk yang tidak bisa diperoleh kecuali dengan adanya perdagangan atau niaga , beberapa pekerjaan, kerajinan tangan (manufaktur) dan kegiatan pembangunan-pembangunan gedung dan lain sebagainya.

4. Riba akan mendatangkan terputusnya kebaikan-kebaikan di antara manusia yang berhubungan dengan adanya pinjam-meminjam.

Sesungguhnya riba ketika diharamkan, hati seseorang menjadi baik/senang dengan memberikan pinjaman satu dirham dan kembali satu dirham semisalnya, dan seandinya riba itu halal maka bisa dipastikan hajat yang dibutuhkan akan membawanya kepada mengambil satu dirhan dengan dua dirham. Hal ini akan mendatangkan terputusnya saling membantu (diantara sesama) dan terputusnya kebaikan-kebaikan (lainya) (Tafsir al-Kabir lilfakhri ar-Rozi 7/93-94, Tafsir Ghoroib Al-Qur’an wa Roghoib al-Furqon lin Naisabury 3/81 bihamisyi ath-Thobary)

Kesimpulannya:

Riba telah merusak tatanan kehidupan sosial dan ekonomi manusia.

Macam-Macam Riba dan Contohnya.

1. Riba Fadl


Riba yang mana muncul karena adanya jual-beli atau pertukaran barang ribawi yang sejenis, namun berbeda kadar atau takarannya. Contoh:

a. 20 kg beras kualitas bagus, ditukar dengan 30kg beras kualitas rendah.

b. Menukarkan uang 10 dinar emas dengan uang 15 dinar emas; uang 100 dirham perak ditukar dengan uang 150 dirham perak.

2. Riba Nasi’ah

a. Riba yang muncul karena adanya jual-beli atau pertukaran barang ribawi yang tidak sejenis yang dilakukan secara utang (tempo)

Contoh: Tukar menukar dollar dengan rupiah yang penyerahan salah satu atau keduanya di kemudian hari, seperti A menukarkan 100 dolar kepada B dengan nilai Rp 1.200.000,- A menyerahkan uang dolarnya sekarang dan B menyerahkan uang rupiahnya satu bulan kemudian (Kurs mata uang pasti selalu berubah-ubah).

b. Riba yang muncul akibat adanya penambahan nilai transaksi yang diakibatkan oleh perbedaan atau penangguhan waktu transaksi.

Contohnya : A menjual sepeda montor kepada B seharga Rp 10 juta rupiah lunas dalam tiga bulan, karena B tidak bisa melunasi dalam tiga bulan, maka A memberi kelonggaran waktu 3 bulan lagi dengan syarat untangnya menjadi 12 Juta.

Contohnya : A memiliki utang senilai Rp 10 Juta kepada B jatuh tempo 1 Desember 2012. Namun sampai tanggal tersebut, A belum mampu melunasi pinjamannya. Akhirnya B membuat syarat kepada A, jangka waktu pinjaman dapat diperpanjang, tetapi jumlah utang bertambah menjadi Rp 15 Juta.

3. Riba Qardh

Riba yang muncul karena adanya tambahan atas pokok pinjaman yang dipersyaratkan di muka oleh kreditur atau shahibul maal kepada pihak yang berhutang (debitur), yang diambil sebagai keuntungan.

Contoh: A memberi pinjaman uang kepada B Rp 10 juta dengan syarat B mengembalikan pinjaman tersebut sebesar Rp 18 juta pada saat jatuh tempo.

4. Riba Yad


Menurut golongan Syafi’iyyah, riba yad ialah:

a. Jual beli dengan menunda pengambilan salah satu gantinya atau kedua-duanya tanpa menyebut jangka waktunya (AL Mausu’ah juz 22 hal.57)
Contoh: A membeli bata merah bata B dengan nilai transaksi saat ini secara kontan, namun B menyerahkan bata merahnya di kemudian hari. Adanya jeda waktu tersebut menimbulkak gharar (ketidakpastian), karena harga bata merah ketika diserahkan di kemudian hari bisa berbeda dengan harga pada waktu transaksi pembayaran.

b. Riba yad adalah jika salah satu dari dua orang yang melakukan jual beli meinggalkan majlis akad sebelum melakukan serah terima barang (Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj).
Contoh: A membeli beras 1 kwintal kepada B, setelah A membayar uang pembeliannya kepada B, maka B meninggalkan tempat jual beli sebelum dia menyerahkan berasnya kepada A.

Macam-macam riba dan contohnya seperti tersebut diatas hukumnya haram.
Dari Abu Sa’id, ia berkata: Datang bilal kepada Nabi SAW dengan membawa kurma barni (kurma yang kualitasnya bagus) dan Beliau bertanya kepadanya, “Darimana engkau mendapatkannya?” Bilal menjawab, “Saya mempunyai kurma yang rendah mutunya dan menukarkan dua sho’ dengan satu sho’ kurma barni agar kami dapat memberi makan kepada nabi SAW.” Ketika itu Rosululloh SAW bersabda, “Hati-hati! Hati-hati! Ini aslinya riba, ini aslinya riba. Jangan kamu lakukan, bila engkau mau membeli kurma maka jaullah terlebih dahulu kurmamu yang lain untuk mendapatkan uang dan kemudian gunakanlah uang tersebut untuk membeli kurma barni!”

Penjelasan:

Barang-barang ribawi itu ada 6 (enam), yaitu;
2 (dua) berupa mata uang terdiri dari emas dan perak (dan semua yang dikiyaskan kepada keduanya seperti mata uang rupiah, ringgit, dolar dan lain sebagainya). Dan yang empat berupa makanan yaitu kurma, gandum, jawawut/sya’ir (sejenis gandum) (semua yang dikiaskan kepada ketiganya sebagai makanan pokok, seperti beras, jagung dan lain sebagainya) dan garam.

Dari Abu Sa’id al-Hudriyi RA dari Rosululloh SAW Beliau bersabda: Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jawawut/gandum dengan jawawut/gandum, kurma dengan kurma dan garam dengan garam semisal dengan semisal, kontan dengan kontan, maka barang siapa yang menambah atau minta tambahan sungguh dia telah melakukan riba, orang yang mengambil dan orang yang memberi dalam urusan riba itu sama.

Dari Usamah bin Zaid sesungguhnya Nabi SAW bersabda: Sesungguhnya riba itu dalam pinjam-meminjam.

Dari Abil Minhal dia berkata: aku bertanya kepada Barra’ bin Azin dan Zaid bin Arqam RA dari tukar-menukar mata uang, keduanya berkata orang ini lebih baik dariku dan keduanya berkata: Rosululloh SAW melarang menjual mata uang emas dibayar dengan mata uang perak secara pinjaman (secara tempo).

Dari Usamah bin Zaid, sesungguhnya Rosululloh SAW bersabda, “Sesungguhnya riba berada pada pinjaman.” Abdulloh berkata: yang dimaksud Nabi yaitu satu dirham (dibayar) dua dirham.

Malik telah bercerita padaku dari Zaid bin Aslam, ia berkata: Riba pada zaman jahiliyah yaitu bahwa ada seorang laki-laki, memiliki suatu kewajiban (utang) pada laki-laki (yang lain) untuk jangka waktu tertentu. Maka ketika telah jathu tempo, yang memberikan pinjaman (kreditur) berkata, “Apakah kamu mau membayar atau memberi tambahan (pembayaran)?” Maka ketika debitur membayar, kreditur menerima (pembayaran), dan jika tidak membayar, maka debitur menambah haknya kreditur, dan kreditur memperpanjang sampai waktu tertentu.

Dari Abdullah bin Amr dia berkata: Rosululloh SAW bersabda: Tidak halal pinjam dan jual-beli, tidak halal dua syarat dalam satu penjualan, tidak halal keuntugnan apa-apa yang kamu belum menguasai barangnya (menjual barang yang telah dibelinya yang oleh si penjual barangnya belum diserahkan kepadamu ) dan tidak halal jual beli apa-apa yang tidak ada di sisimu.

Belum ada Komentar untuk "Hikmah Diharamkannya Riba Dan Macam-Macam Riba Berserta Contohnya"

Posting Komentar

1. Berkomentarlah dengan sopan dan santun
2. komentar selalu dimoderasi
3. boleh meninggalkan link aktif dengan catatan berkomentar sesuai
dengan topik yang dibahas
4. semua komentar negatif seperti hoax, menyinggung, sara, pornografi, politik, dan hal negatif lain akan dihapus