Hukum riba, penjelasan riba dan Ancaman Orang yang makan riba

Hukum riba, penjelasan riba dan Ancaman Orang yang makan riba
Hukum riba, penjelasan riba dan Ancaman Orang yang makan riba


Hukum Riba

Riba menurut Al-Qur’an, Al-hadist dan ijma’ (kesepakatan) para ulama’ hukumnya haram, riba termasuk dosa besar, riba termasuk amalan yang melebur amal-amal kebajikan. Allah dan Rosul tidak pernah menyatakan perang kepada orang yang berbuat maksiat kecuali kepada orang yang memakan riba. Orang yang mengatakan atau menganggap riba itu sesuatu yang halal, maka hukumnya kafir karena dia mengingkari sesuatu dari urusan agama yang tidak boleh tidak, setiap muslim harus mengetahuinya dan dia wajib bertaubat. Adapun orang yang melakukan riba tetapi dia menyadari bahwa yang dilakukannya adalah barang haram dan dia tidak menghalalkannya maka hukumnya fasiq (maka dia pun wajib bertaubat dari pelanggaran kefasikannya) (al-Mabsuth 12/109, Kifayah al-Thalib 2/99, al-Mukadimat libni Rusyd 501-502, al-Majmu’ 9/390, Nihayatu al-Muhtaj 3/409 dan al-Mughni 3/3).

Al-Mawardi dan lainnya berkata: Sesunguhnya riba tidak halal sama sekali dalam syariat.

Allah Ta’ala berfirman pada surat An-nisa ayat 161)

Artinya:
“ Dan karena mereka mengambil riba padahal mereka telah dilarang daripadanya ... ”.

Yakni dalam kita-kitab sebelumnya (al-Majmu’ 9/391, Mughni al-Muhtaj 2/21, al-Mausu’ah 22/51).
Allah berfirman pada surat al-baqoroh ayat 275.

Artinya:
“ ... Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba ...”

Allah berfirman pada surat al-baqoroh ayat 275.
Orang-orang yang makan riba mereka tidak bangun dari kubur kecuali seperti orang yang kesurupan syetan karena gila.

Allah berfirman pada surat ali-imron ayat 130.

Artinya:
“ Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian makan riba dalam keadaan berlipat ganda dan bertakwalah kalian kepada Allah agar kalian beruntung”.

Penjelasan


Ayat ini tidak membatasi atau mensyaratkan bahwa riba itu haram kalau sudah berlipat ganda, akan tetapi ayat ini menjelaskan bahwa riba itu bisa menyebabkan seseorang utangnya menjadi berlipat ganda. Contoh: A meminjamkan barang kepada B seharga Rp 10.000.000,- dibayar lunas dalam 3 bulan. Ketika waktu pembayaran telah tiba, A mengatakan kepada B: utangmu kamu bayar sekarang atau kamu saya beri waktu 3 bulan lagi tetapi utangmu menjadi Rp 12.500.000,- begitu seterusnya sehingga yang tadinya utangnya hanya Rp 10.000.000,- bisa menjadi Rp 20.000.000,- bahkan mungkin bisa menjadi ratusan juta rupiah karenanya.
Dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW beliau bersabda, “Jauhilah tujuh amalan yang menjadi pelebur amal kebajikan (tujuh dosa besar yang membinasakan). “ Mereka berkata, “ Apakah amalan-amalan itu ya Rosululloh SAW ? “ Beliau bersabda, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang dan menuduh berbuat zina kepada seorang mu’minat yang terhormat yang lalai dari zina.”

Dari jabir ibn Abdillah RA dia berkata: Rosululloh SAW melaknati orang yang makan riba, orang yang memberi makan riba, penulisnya dan dua orang saksinya, (mereka) hukumnya sama saja.
Ulama’ telah ijma’ (sepakat) atas asli haramnya riba (Hasyiatu ash-Shu’aidy ‘ala Kifayati al-Thalib 2/99, al-Majmu’ 9/390, al-Mukadimat libni al-Rusyd 501-502).
Al-Sarkhasy berkata: Allah Ta’ala menyebutkan bagi orang yang makan riba ada lima siksaan,yaitu;

Macam-Macam Siksaan Untuk Orang yang Makan Riba.

1. Bangun dari kubur berdirinya seperti orang yang kesurupan seta/gila.


Allah Ta’ala berfirman dalam surat al-baqarah ayat 275

Artinya:
“ Orang-orang yang makan riba mereka tidak berdiri dari kubur kecuali seperti berdirinya orang yang kesurupan setan/gila”.

Dari Sa’id bin Jubair: “ Orang yang makan riba tidak bangun dari kubur kecuali seperti bangunya orang yang kesurupan syetan karena gila.” (Al-Baqarah ayat 275 al-ayat). Dia berkata: dibangkitkan orang yang makan riba pada hari kiamat dalam keadaan gila lagi mengamuk.

2. Orang yang makan riba hartanya rusak atau binasa atau hilang barokahnya sehingga dia tidak bisa bersenang-senang dengan harta itu dan tidak bisa memanfaatkannya sampai ke anak turun sesudahnya.


Allah berfirman dalam surat Al-baqarah ayat 276

Artinya:
“ Allah menghapus (barokahnya) riba dan menyuburkan (mengembangkan) shadaqah-shadaqah”.

Yang dimaksud dalam ayat ini adalah kerusakan dan kebinasaan riba dan dikatakan pula maknanya: Hilang barokahnya dan hilangnya bisa bersenang-senang dengannya, sehingga dia tidak bisa mengambil manfaat dan juga anak-anaknya sesudahnya.

3. Allah dan Rasul-nya tidak pernah memaklumatkan peperangan kepada orang yang berbuat maksiat kecuali kepada orang yang makan riba.

Allah berfirman dalam surat al-baqarah ayat 279

Artinya:
“ Beritahukanlah kepada mereka (orang yang makan riba) peperangan dari Allah dan Rosulnya. “

4. Orang yang menghalalkan riba hukumnya kafir, karena dia mengingkari hukum/sesuatu dari urusan agama yang mau tidak mau setiap muslim wajib mengetahuinya.


Allah berfirman dalam surat Al-baqarah ayat 278

Artinya:
“ Tinggalkanlah apa-apa yang tersisa dari riba jika kalian orang-orang yang beriman “.

Setelah Allah menyebutkan tentang riba, Allah berfirman dalam surat Al-baqarah 276

Artinya:
“ Dan Allah tidak senang kepada tiap-tiap orang yang kafir yang berdosa “.

Yakni orang kafir, dengan sebab menghalalkan riba, orang yang berdosa lagi menyimpang, dengan sebab makan barang riba.

5. Orang yang makan riba kekal di dalam neraka. (al-Mabsuth 12/109-110)

Allah berfirman dalam surat Al-baqarah 275

Artinya:
“ Dan barang siapa yang mengulangi (makan riba) maka mereka adalah penghuni neraka yang kekal di dalamnya”.

Ini semua menunjukan, bahwa wajib bagi orang yang akan memberi pinjaman maupun orang yang akan pinjam, orang yang akan menjual maupun membeli, lebih dahulu harus belajar hukum-hukum muamalat sebelum menjalankannya, sehingga di dalam bermu’amalat selalu sah dan benar dan jauh dari yang haram maupun yang syubhat. Kaidah menyebutkan “maa laa yatimmu al waajibu ilaa bihi fahuwa waajibun”. Artinya: ”apa-apa yang tidak bisa sempurna sesuatu yang wajib kecuali dengannya, maka sesuatu itupun hukumnya wajib”.

Dan meninggalkan (meninggalkan mempelajari riba) hukumnya berdosa dan salah. Seseorang jika tidak mau belajar (hukum-hukum muamalat), kadang-kadang jatuh di dalam riba tanpa sengaja melakukannya, bahkan kadang-kadang masuk di dalam riba yang tanpa diketahui berakibat terperosok di dalam keharaman dan jatuh di dalam neraka. Kebodohan seseorang tidak mengetahui hukum riba, tidak bisa memaafkan diri dari berbuat dosa dan tidak bisa menyelamatkan diri dari neraka, karena kebodohan dan kesengajaan itu tidak menjadi syarat timbulnya balasan atas dosa riba.

Riba dengan semata-mata dilakukan oleh seorang mukallaf telah mewajibkan kepada adanya siksaan yang besar yang telah diancamkan oleh Allah kepada pelaku riba.

Imam al-Qurtuby berkata: Seandainya tidak ada riba kecuali bagi orang yang sengaja melakukannya, maka tidak haram riba kecuali atas para fuqaha’ saja. Dan sungguh-sungguh telah ma’tsur dari ulama’ salaf (para sahabat dan ulama’-ulama’ sesudahnya) bahwa mereka telah memperingatkan / menyuruh berhati-hati (kepada para pedagang) dalam urusan perdaganganya sebelum belajar hukum-hukum yang menjaga muamalat perdagangannya dari takhobbut (kesurupan/terjerumus) dalam riba.

Diantaranta adalah ucapan shahabat Umar bin Khattab: Tidak boleh berjual beli di pasar kami kecuali orang yang faqih (orang yang faham hukum muamalat). Jika bukan orang yang faham hukum muamalat maka dia akan makan riba. Dan ucapan shahabat Ali R.A: barang siapa berjualan beli/berdagang sebelum dia menjadi orang yang faqih/faham hukum muamalat maka sungguh-sungguh dia telah jatuh dalam riba, ruwet dan sulit melepasnya, kemudian dia sungguh-sungguh dia telah jatuh kedalam riba, ruwet dan sulit melepaskannya.

Sesungguhnya semua hal yang bisa mendatangkan riba itu hukumnya haram dan semua dorongan yang bisa mendatangkan keharaman hukumnya haram. Abu dawud dengan sanadnya telah meriwayatkan dari jabir RA dia berkata: ketika turun surat al-baqarah ayat 275 Rosululloh SAW bersabda: Barang siapa yang tidak mau meninggalkan bagi hasil mukhabarah maka diberitahukan kepadanya peperangan dari Allah dan Rasul-Nya.

Mukhabarah adalah hasil tanam dengan sebagaian apa-apa yang keluar dari bumi. Artinya bagi hasil dengan menentukan tempat. Contoh: A berkata, “Tanah petak ini panen tidak panen untuk bagian saya sebagai pemilik tanah dan tanah petak yang itu panen tidak panen untuk bagian kamu sebagai pengelola.” Cara inilah yang dilarang.

Al-Muzabanah adalah membeli kurma basah diatas pohon, dengan kurma kering yang ada di atas bumi (di atas llima wasak).

Al-Muhaqalah adalah membeli biji-bijian yang masih ada di dalam tangkainya di dalam kebun, dengan biji-bijian kering yang ada di atas bumi.

Sesungguhnya ini semuanya diharamkan karena tidak diketahui persamaan antara keduanya sebelum keringnya dan karena inilah para fuqoha’ mengatakan: Tidak mengetahui persamaan itu seperti mengetahui hakikatnya kelebihan, dan karena inilah mereka mengharamkan segala sesuatu (berdasarkan apa yang mereka fahami) karena untuk mempersempit jalan-jalan yang bisa mendatangkan kepada riba, dan semua perantara-perantara yang bisa menyampaikan kepada riba. Dan bertingkat-tingkat pandangan mereka (tentang riba) tergantung pemberian Allah kepada masing-masing dari mereka tentang ilmu tersebut.

Berdasarkan pendapat kebanyakan ahli ilmu, riba adalah bab yang paling sulit difahami.
Shahabat Umar bin Khatab berkata: Tiga hal yang aku senang Rosululloh SAW memberikan keterangan kepada kami dengan keterangan yang sungguh-sungguh bisa menyampaikan kami kepadanya (pengertian yang sebenarnya) yaitu: 1. Bab jad (kakek);2. Bab kalalah (tidak punya orang tua dan anak);3. Bab macam-macam riba.



Belum ada Komentar untuk "Hukum riba, penjelasan riba dan Ancaman Orang yang makan riba"

Posting Komentar

jangan melakukan komentar yang spam di sini gays