Pengertian Budi Luhur, Peraturan Agama Islam, Perundangan, Norma dan Etika

Pengertian Budi Luhur, Peraturan Agama Islam, Perundangan, Norma dan Etika
Pengertian Budi Luhur, Peraturan Agama Islam, Perundangan, Norma dan Etika

Melaksanakan atau mengamalkan budi luhur merupakan bagian dari menetapi ibadah kepada Allah SWT untuk mendapatkan kehidupan yang mulya, yang pengamalannya secara horizontal kepada sesama manusia, lingkungan masyarakat, bangsa dan Negara. Ibadah seperti inilah yang dikenal sebagai ibadah ghoiru mahdloh yaitu ibadah kepada Allah yang aturannya atau tata caranya tidak secara langsung diatur secara rinci oleh Allah dan RosulNya.

Pada prinspinya manusia tergolong mahluk sosial dengan sendirinya memiliki perilaku sosial. Artinya manusia dalam kehidupannya selalu ada ketergantungan terhadap orang lain, karena masing-masing individu atau diri manusia itu selalu memiliki itu memiliki kelemahan dan kelebihan sehingga timbul kondisi saling membutuhkan. Demikian juga kita yang hidup dalam lingkungan masyarakat majemuk harus dapat melakukan hubungan sosial, membawa diri dan bisa meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sosial di sekitar kita. Hal ini sangat penting karena disamping menetapi kewajiban ibadah, juga untuk mendapatkan “hati” (simpati) dari masyarakat sehingga semua kegiatan dan amar ma’ruf nahi mungkar kita dapat berjalan dengan aman dan lancar. Dengan demikian Agama Islam yang haq ini dapat berkembang dan diterima di tengah-tengah masyarakat.

Praktek cara budi luhur ini sebetulnya bukanlah hal yang baru dalam dunia Islam di Indonesia, karena para wali dahulu juga mengerjakan praktek budi luhur sehingga ajaran Islam bisa diterima di masyarakat Jawa atau Indonesia yang pada saat itu mayoritas adalah penganut Hindu, Animisme dan Dinamisme.

Pengertian Budi Luhur

Budi luhur pada dasarnya adalah budi pekerti atau akhlak yang baik yang secara nilai dasar umum bisa diterima oleh masyarakat sebagai ucapan/perilaku/sikap/tindak-tanduk yang baik. Pengertian dari artikel ini adalah segala perilaku atau perbuatan yang sesuai dengan peraturan agama dan menetapi peraturan pemerintah yang sah, mulai dari RT sampai dengan pemerintah tingkat pusat serta menetapi norma-norma yang berlaku dalam masyarakat setempat.

Orang yang berbudi luhur akan menjadikan dirinya luhur (mulya) kedudukannya dalam masyarakat, ibarat orang naik tangga meskipun satu demi satu namun akhirnya sampai di atas. Sebaliknya orang yang berbudi ashor (tidak berbudi luhur) akan menjadi hina, dapat di ibaratkan seperti orang yang menuruni tangga meskipun satu demi satu dia melaluinya toh akhirnya sampai bahawah juga.

Dari pengertian diatas maka bisa timbul pertanyaan, siapa obyek harus dibudiluhiri? Yang menjadi obyek untuk dibudiluhurio adalah seluruh lapisan masyarakat baik kelembagaan maupun perorarang, pejabat maupun masyarakat biasa, keliuarga maiupun bukan keliuarga, kalangan muslim maupun kalangan non muslim, lingkungan, alam semesta dan semuanya yang berinteraksi secara sosial dengan kita. Hal ini tercermin dari ungkapan bahwa budi luhur tidak hanya mengikuti aturan agama, tapi juga menetapi aturan perundangan dan norma serta etika yang berlaku dalam masyarakat yang merupakan aturan yang dibuat oleh manusia untuk mengatur ketertiban di lingkungannya.

Sedangkan yang menjadi ukuran “baik” dalam berbudi luhur adalah baik secara aturan dan sikap (Cara penyampaiannya) menurut;

1. Agama (Allah,Rosul),
2. Aturan perundangan yang berlaku,
3. Norma dan etika yang berlaku dalam lingkungan masyarakat tersebut.
Ajaran Islam sebagai ajaran yang bersumber dari wahyu adalah suatu kebenaran mutlak yang mengandung tuntunan kebijakan yang bersifat universal dan meliputi seluruh asepek kehidupan.

Pengertian Peraturan Agama Islam

Peraturan Agama Islam adalah peraturan yang dibuat oleh Allah dan RosulNya, yang bersifat tetap dan mengikat semua umat tanpa ada batasan wilayah atau negara dengan “Reward and punishment” (Pahala dan hukuman) berupa surga dan neraka (akhirat) dan tidak secara langsung diterima di dunia. Dengan demikian peraturan ini wajib untuk diikuti dan mengikat manusia baik di dunia maupun di akhirat nantinya.

Pengertian Aturan Perundangan

Aturan Perundangan adalah kesepakatan tertulis yang dibuat oleh manusia atau pemerintah dengan batas negara/wilayah/daerah tertentu, bersifat mengikat pada masyarakat di wilayah tersebut denan sanki hukuman denda atau kurungan dan sebagainya yang sejenis serta biasanya tanpa reward atau penghargaan yang terukur. Dengan demikian boleh jadi aturan negara/wilayah/satu dengan lainnya akan berbeda.

Pengertian Norma Dan Etika

Norma dan Etika adalah kesepakatan tidak tertulis yang secara umum diakui atau dianggap baik dan dianut oleh masyarakat yang biasanya berlaku pada daerah tertentu yang tidak lebih besar dari sebuah Negara.

Aturan ini secara ekplisit tidak ada “reward and punishment”, akan tetapi biasanya si pelanggar akan dikenakan sanksi sosial yaitu dijauhi dan dianggap jelek oleh lingkugan sosialnya yang berakibat si pelanggar akan terkucilkan.

Sebaliknya yang mengikuti aturan norma dan etika ini akan mendapatkan reward berupa hubungan baik dengan lingkungan sosialnya dan dianggap baik oleh lingkungnnya. Tentunya norma dan etika pada suatu daerah akan berbeda dengan daerah lainnya, akan tetapi pada umumnya akan mengacu atau seiring dengan aturan diatasnya yaitu agama dan aturan perundangan.

Aturan yang ketiga ini walaupun tiodak ada hukuman tertulis dan tidak ada hukuman fisik, akan tetapi bisa jadi dampak hukummnya lebih berat dari atuiran kedua kaera hukuman yang bersifat sosisal sering kali memberikan dampak psikologis yang lama bahkan tidak ada batasan waktu yang jelas.
Pelanggaran pada peraturan Agama atau perundangan sering kali juga dibarengi dengan saksi sosial sebagaimana pelanggaran norma dan erika. Oleh karena itu yang harus difahami adalah dalam pelaksanaan praktek budiluhur urutan nomer yang dibawah tidak boleh bertentangan dengan nomor urutan yang diatasnya.

Dengan demikian secara umum, apabila seseorang/kelompok orang/lembaga melaksanakan konsep budi luhur, maka akan memberikan dampak dan kontribusi yang postifi kepada masyarakat dan lingkungannya sehingga akan terbangun pula citra yang positif. Dengan kata lain jika dalam kehidupan bermasyarakat terbangun citra yang negatig, maka perliu dilakukanya mawas diri, barang kali ada ucapan/sikap/perilaku yang tidak budi luhur atau budi ashor

2 Komentar untuk "Pengertian Budi Luhur, Peraturan Agama Islam, Perundangan, Norma dan Etika"

1. Berkomentarlah dengan sopan dan santun
2. komentar selalu dimoderasi
3. boleh meninggalkan link aktif dengan catatan berkomentar sesuai
dengan topik yang dibahas
4. semua komentar negatif seperti hoax, menyinggung, sara, pornografi, politik, dan hal negatif lain akan dihapus