Pengertian Riba Secara Istilah dan Bahasa

Pengertian Riba Secara Istilah dan Bahasa
Pengertian Riba Secara Istilah dan Bahasa


Pendahuluan

Pada saat ini riba telah berkembang merajalela di tengah-tengah masyarakat. Mereka menganggap menjadi rentenir pasar, rentenir perumahan, rentenir kantoran adalah sebagai pekerjaan yang wajar dan biasa-biasa saja, dengan alasan membantu dan menolong kepada orang yang membutuhkan uang untuk kepentingan konsumtif produktif. Padahal riba merupakan perbuatan yang dilarang keras dan diharamkan oleh Allah dengan ancaman neraka, dan Rosululloh SAW melaknat kepada pemakan riba, pemberi makan riba, penulis riba dan saksi-saksi riba, mereka hukumnya sama saja (sama-sama dilaknat, sama-sama dosa besar dan sama-sama mati masuk neraka). Naudzubillahi min dzalik.

Pembahasan

PENGERTIAN RIBA


Pengertian Riba Secara Bahasa dan Istilah

Kata ar-riba isim maqshur berasal dari rabaa-yarbuu.

Riba secara bahasa bermakna ziyadah (tambahan), adakalanya tambahan itu berasal dari dirinya sendiri. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Haj ayat 5

Artinya:
Telah kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuhan-tumbuhan yang indah.

Adapun menurut istilah, para ulama’ memberi pengertian Tentang Riba:

1. Riba adalah semua tambahan yang tidak disertai dengan adanya pertukaran kompensasi. (ibnul Araby)

2. Riba adalah tambahan yang dikenakan di dalam muamalah uang maupun makanan, baik dalam kadar maupun waktunya. (Imam As-Suyuthy)

3. Riba adalah tambahan yang tidak disertai kompensasi yang disyaratkan didalam jual beli.
(Imam Sarkhasy)

4. Riba adalah akad atas sebuah konpensasi tertentu yang tidak diketahui kesesuaiannya dalam standar syariat, baik ketika akad itu berlangsung maupun ketika ada penundaan salah satu barang yang ditukarkan. (Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj)

5. Masih ada lagi beberapa pengertian dari para ulama’ lainnya tentang riba.

Dari beberapa penjelasan tentang riba, maka secara umum terdapat benang merah yang menegaskan bahwa riba adalah pengambilan tambahan baik dalam jual beli maupun pinjam-meminjam secara bathil atau bertentangan dengan prinsip muamalah dalam Islam.

1. Al-bai’


Al-bai’ secara bahasa adalah masdar dari baa’a artinya asalnya: pertukaran harta dengan harta dan umum digunakan dalam arti “transaksi” secara majaz, karena al-bai’ menjadi sebab kepemilikan. Al-baai’ itu umum digunakan juga sebagai tiap-tiap satu dari dua orang yang bertransaksi (al-baai’ bisa diartikan penjual dan bisa diartikan pembeli). Akan tetapi ketika kata al-baai’ tersebut disebut secara bebas, maka yang paling cepat bisa diterima oleh pikiran artinya adalah “orang yang memberikan barang” dan al-bai’ jika disebut secara bebas bisa diartikan sebagai ‘barang dagangan’ dan ini bisa dikatakan: ini merupakan dagangan yang bagus (al-Mishbahu Al-Munir hal.69).
Menurut istilah kata Al-bai’ merupakan Al-Qolyuby yang memberikan ta’rif al-bai’ yaitu suatu kegiatan transaksi tukar menukar harta yang memberi faedah kepemilikan suatu benda/barang atau manfaat untuk selamanya bukan karena adanya tujuan taqarrub (Hasyiah Qolyuby 2/152 dan al-Mausu’ah 22/50). Pada dasarnya jual beli hukumnya halal dan riba hukumnya haram.


2. Al-‘araaya


Al-‘araaya secara bahasa adalah pohon kurma yang oleh pemiliknya diberikan kepada orang lain agar memakan buahnya yang masih segar, atau pohon kurma yang dimakan buahnya yang masi di atas pohon. Jama’nya al-‘araaya. Dikatakan juga makna al-‘ariyah adalah memakan buah kurma yang masih segar (al-Mishbah al-munir dan kamus al-Muhit).

Adapun golongan al-Syafi’iyah memberikan ta’rif bahwa al-‘ariyah adalah menjual kurma basah diatas pohon dibayar dengan kurma kering di atas bumi atau menjual anggur basah diatas pohon dibayar dengan anggur kering di atas bumi yang jumlahnya kurang dari lima wasak (1 wasak = 60 sho’, 1 sho’ = +- 2,7kg), sesuai dengan taksiran persamaannya (Syarhu al-minhaj lil Mahally 2/238, al-Mausu’ah 9/91). Di dalam bai’araaya ada unsur riba dan syubhat yang ada dalam al-muzabanah tetapi jual beli araaya itu diperbolehkan secara nash, diantaranya :

Dari sahal bin Abi Hatsmah dia berkata: Rosululloh SAW melarang jual beli kurma dibayar dengan kurma, dan beliau memberi kemurahan dalam urusan ariyah dijual dengan taksirannya, keluarganya memakan kurma basah dari jual beli ariyah.

Di dalam lafadz lain juga ada:
dari jual beli buah dengan kurma dan dia berkata: riba yang demikian itu al-muzabanah hanya saja bolehnya jual beli ariyah itu sah berdasarkan nash yaitu satu pohon dua pohon yang diambil oleh ahli rumah diganti dengan kurma kering, mereka memakan kurma basah (dari jual beli ariyah) sesuai taksirannya. (Nail al-Author 5/226)

Belum ada Komentar untuk "Pengertian Riba Secara Istilah dan Bahasa "

Posting Komentar

1. Berkomentarlah dengan sopan dan santun
2. komentar selalu dimoderasi
3. boleh meninggalkan link aktif dengan catatan berkomentar sesuai
dengan topik yang dibahas
4. semua komentar negatif seperti hoax, menyinggung, sara, pornografi, politik, dan hal negatif lain akan dihapus